August 12, 2016

Detik-detik Baby F Dilahirkan



27 Juli 2016

00.10
Saya masih terjaga setelah menelfon suami yang sedang dinas di Jakarta, sambil membaca blog dan laman tentang kehamilan. Rasa kantuk mulai mendera tapi mata sulit rasanya terpejam. Sesekali kontraksi semu muncul dan Baby F menendang-nendang dengan kencang. "Ah mungkin Baby F laper nih." Saya pun ke dapur mencari kue untuk dimakan dan membuat segelas penuh susu. Mulas disertai perut yang mengencang masih terus saya rasakan. Kali ini kontraksi palsu ada setiap sepuluh menit kemudian hilang. Rasanya juga (maaf) kayak mau pup. Saat ke kamar mandi, oh ternyata sudah ada flek-flek terlihat!
THIS IS IT!

01.50
Buru-buru saya bangunkan Mamah dan bilang sudah ada flek tanda akan melahirkan. Suami juga segera saya kabari. Saya dan Mamah ngga tergesa-gesa ke rumah sakit karena Mamah sudah pengalaman dan coba menenangkan saya kalau waktu melahirkannya masih lama. Semua perlengkapan Baby F dan saya selama di rumah sakit nanti yang sudah disiapkan sebelumnya siap dibawa. Buku catatan kehamilan juga ngga lupa saya bawa. Setelah semua siap, meluncurlah saya dan Mamah ke RS. Hermina Pasteur.

02.45
Sampai rumah sakit. Bersyukur juga kontraksi ini muncul pagi-pagi buta yang mana jalanan pasti lengang dan lancar jaya. Ngga kebayang kalo kontraksinya pas jam-jam pulang kantor, macetnya pasti bikin makin mulesss. Baby F pinter yaaa..hehe..
Rumah sakit yang biasanya gaduh di siang hari, terlihat begitu sepi dini hari itu. Saya menuju Front Office untuk mendaftar dan ngga lama perawat datang mengantarkan saya ke ruang persalinan. Oh iya sebelumnya saya sudah booking kamar persalinan seminggu sebelumnya. 

03.30
Saya dibawa ke ruang persalinan di lantai 2 dan langsung periksa dalam. Tau kan ya periksa dalam? Tangan bidannya 'masuk-masuk' mengecek sudah pembukaan berapa. Ternyata sudah pembukaan 3!
Suami yang baru menerima pesan saya langsung meluncur ke Bandung dari Jakarta. Dan jam stengah 5 subuh itu suami kena macet di Cawang. Itu setengah 5 subuh men! Jakarta udah macet! Apa-apaan?!

06.30
Waktu berlalu sangat lambat...kontraksi masih muncul setiap sepuluh menit. Saya merasakan seperti kepala Baby F mendorong jalan lahir. Mulesnya seperti lagi haid. Sekali-sekali saya meringis dan menutup mata menahan sakit. Mamah setia mendampingi sambil melantunkan doa.
Suami dan ibu mertua - yang sebelumnya ternyata dijemput suami dari Purwakarta - akhirnya datang. Melihat wajah suami mulesnya hilang..seneng bangeeettt..
Progres pembukaan dicek setiap empat jam. Dua jam lagi...mudah-mudahan nambah pembukaannya.

08.30
Periksa dalam lagi! Darah tanda mulai terbukanya jalan lahir sudah mulai rembes. Kali ini...pembukaan 5! Alhamdulillah ada kemajuan. Oh ya proses melahirkan normal itu mulai dari kontraksi hingga lahir rata-rata 18 jam. Huhuuu lama yaaa..
Bidan yang saat itu bertugas menyarankan agar saya banyak jalan untuk mempercepat pembukaan. Saya sempat naik ke lantai 5 lewat tangga biasa untuk melihat kamar rawat inap di mana sudah menunggu Mamah, Ibu Mertua dan adik bungsu. Suami menggandeng tangan saya yang sewaktu-waktu saya remas bila kontraksi datang. Sampai di kamar saya peluk suami saking sakitnya dan nahan nangis. Sabarrr..

12.00
Periksa dalam dipercepat karena saya mulai ngga tahan dengan rasa sakitnya. Pembukaan hanya naik setengah senti. What!!! Suami bener-bener luar biasa. Mensupport saya kalau saya pasti bisa melalui ini, mendoakan saya tanpa henti, menyuapi saya dengan sabar, rela diperintah saya yang sedang kesakitan.

13.30
Saya mulai berteriak-teriak yang sebelumnya saya masih bisa tahan dan hanya merintih sesekali. Suami mulai saya remas tangan dan bahunya lebih kencang, bajunya saya tarik-tarik. Saya minta dipanggilkan bidan setiap 15 menit karena rasanya lebih tenang kalau bidan sudah datang dan memberi penjelasan.
Pembukaan dicek lagi. Pembukaan 7! Aaahhh rasa sakitnya subhanallah.. begini ya perjuangan ibu kita saat melahirkan. Huhuuu maaf kalau saya suka kurang ajar, Mah. :(
Saat Mamah mnguatkan di samping saya mulai menangis, ingin rasanya sujud minta maaf.
Mamah juga pastinya ikutan nangis. Pasti bisa. Sebentar lagi ya harus tahan, kata mamah.
Suami yang setia dan sabar mulai ngga kuat juga liat saya kesakitan setengah mati. Masih kuat ngga? Kalau mau sesar ngga papa. Saya juga kepengennya langusng sesar aja berhubung sakitnya ngga karuan dan saya ngerasa lelah bgt juga ngantuk. ngga ada tenaga rasanya kalau mau lanjut.
Saya minta disesar aja sama suami dan mamah. tapi mamah bilang jangan. Yakin pasti bisa.

15.30
Peralatan operasi mulai disiapkan di sekitar tempat tidur. Alat infus dipasangkan di tangan sebagai persiapan transfusi darah kalau-kalau diperlukan atau sebagai cairan induksi. Saya ngga mau induksi, kalau induksi saya pilih langsung sesar ajaaa..
Bu bidan yang dari tadi saya panggil mengarahkan saya untuk jangan dulu ngeden kalau belum pembukaan 10. Saya disuruh tarik nafas dan buang nafas. Tapi ngga bisaaa, maunya ngedeeen...
Bu bidan-bu bidan nya setia banget dan sabar banget ngeladenin saya yang banyak tanya, banyak ngatur, minta ditemenin, diremes juga tangannya. Bu bidannya nyuruh saya untuk tidur miring biar pembukaannya cepat,tapi kontraksinya 10x lipat sakitnya. Yang dicari itu sakitnya, mulesnya, kata bu bidan.
Akhirnya pembukaan 9 dan hampir 10.
Dokter Indri Budiarti sudah diberitahu untuk segera proses lahiran. Mamah, Ibu diminta keluar. Suami tetap mendampingi. Dokter datamg, langusng pakai celemek. Selanjutnya saya disuruh membuka kaki selebar-lebarnya dengan kedua tangan merangkul kaki. Lalu harus ngeden tanpa mengeluarkan suara dan mata harus melihat ke arah keluarnya bayi. Ngga boleh merem karena kataya pembuluh darah di mata bisa pecah.
Dokternya dengan lantang dan tegas teriak: Buka kakinya jangan ditutup!
Suami girang banget pas liat kepala Baby F mulai keliatan..

16.06
Ngga sampe 5 menit ngeden, tangisan Baby F terdengar memenuhi ruangan. Ya Allah, itu anakku yang selama 9 bulan dikandung, begini ya rupa dan suaranya. Saya dan suami terharu dan mulai terisak. Tak lupa kami tak hentinya mengucap syukur. Anak kami terlahir sempurna lahir batin.
Alhamdulillah...

Terima kasih buat para bu bidan yang saya ngga tau namanya dari shift subuh sampai sore yang setia dan sabar menemani. Terima kasih buat bu dokter Indri Budiarti telah membantu proses persalinan dengan lancar dan juga petunjuk-petunjuknya selama saya kontrol kehamilan. Allah yang membalas jasa kalian. Saya benar-benar bersyukur dipertemukan dengan mereka yang menyemangati saya bahwa saya pasti bisa melahirkan secara normal.

Dan, untuk anakku...
 
Welcome to the world, FRASYA ZHAFIRA ANANTARI!