August 12, 2014

The Valley Bistro Cafe

Jumat kemarin saya ke The Valley Bistro Cafe, sebuah restoran terkenal di kawasan Dago atas. Nyasar-nyasar dulu sampai komplek Dago Pakar Resort, alhasil ketar-ketir bensin hampir abis. Turun gunung lah saya nyari pom bensin terdekat sebelum melanjutkan jalan ke The Valley. Ternyata jalan masuknya itu sebelum Dago Pakar Resort yang ada plang Sierra, sejalan waktu saya ke Selasar Sunaryo dulu.

Kesan pertama masuk cafe ini adalah 'wah mahal nih kayaknya'. Yaah hal itu terasa karena melihat konsepnya, The Valley termasuk high-end cafe dengan konsep formal seperti di hotel. Formal yang maksud itu agak kaku gitu loh, bukan bergaya anak muda dengan sofa di sana sini untuk bersantai melainkan meja dan kursi kayu kayak di acara-acara resmi gitu deh. Dan ternyata The Valley juga ada hotelnya. Ada FO Fashion World juga walaupun kecil.

View di tempat ini memang bagus. Kita bisa melihat pemandangan rumah-rumah penduduk dan hijaunya bukit-bukit sekitar Dago.

Oke, pelayan pun menyodorkan menu makanan, dan saat saya buka...tuh bener kan feeling gueh bener! mahaaaal. Range harganya kayak di hotel-hotel, bukan cafe-cafe anak muda yang standarnya 10K-60K. Ini range makanannya 30K-300K. Minuman mungkin standar lah sama aja kayak yg lain. Air mineral paling murah dengan harga enam ribu perak. Tadinya mau pesen itu aja deh, tp saya pengen yg seger2 jadi saya pesen Iced Lemon Tea yang harganya 28K. Gelasnya lumayan gede. Puas lah.

Makanannya saya pesan Tom Yum Goong seharga 42.500. Kirain gede mangkoknya, ternyata oh ternyata cuman segede mangkok kecil zupa-zupa. Jadi saya tambahkan nasi untuk membantu mengenyangkan perut. Untuk rasa sih enak banget, pedes asam manisnya pas, ditambah udangnya yang nikmat. Tapi masih nggak rido kalo 40ribu cuma dapet segitu. Huhuuu. Temen kuliner saya, Bu Nai, pesan es kopyor dan Sup Asparagus dengan harga dan ukuran sama seperti yang saya pesan tadi. Trus meni watir ih, ngasih uang 100 ribuan 2 lembar pas dapet kembalian cuma seribu perak. Wkwkwkwkwk.

Dining experience di sini cukup sekali ini aja deh. Mending cari cafe lain yang menawarkan view indah berikut harga murah meriah. Hehe.





Kami tidak duduk di area ini karena saat itu pukul satu belum dibuka. Menurut waiter, mulai dibuka pukul 3 sore. Klo tempat ini ngga formal, seperti yang saya bilang. Saya duduk di teras restonya agak ke atas dari sini.

Belajar Investasi

Melihat saldo di buku tabungan yang kian meningkat - cieeee :p - saya merasa kalo disimpan saja nilainya tidak akan berkembang. Jadi saya mulai gali informasi kira-kira investasi apa yang bisa menguntungkan. Sempat terpikir untuk memulai bisnis, jualan apa gitu yang penting uang saya berputar dan menghasilkan profit. Tapi memulai bisnis itu tidak mudah loh, dulu saya pernah jadi salah satu konsultan sebuah produk kecantikan MLM. Harus berani menawarkan produk ke orang-orang. Belum lagi saat harus mengambil pesanan ke kantornya, ngantrinya panjang gila, udah kayak terminal bus pas mudik. Susah gening cari uang teh. :( Berjualan suatu produk juga harus ada kreativitas dan inovasinya, saya nggak mau jd follower jualan hijab yang lagi ngetrend sekarang. Udah banyak saingannya gitu. Hehe. Emang dasar nggak punya jiwa bisnis ya. Jadi let's skip this thing!

Selanjutnya, saat ke bank saya ditawari untuk berdeposito dengan jangka waktu yang fleksibel dan suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan tabungan biasa tentu saja. Katanya sih bisa 5 sampai 7 persen. Lumayan tuh daripada diendapkan saja di tabungan, pikir saya. Akhirnya sebagian uang pun saya depositokan untuk jangka waktu tiga tahun ke depan.

Tadinya, berhentilah pemikiran tentang investasi di deposito barusan. Tapi baru-baru ini seorang teman lama mengajak berinvestasi di futures trading atau perdagangan berjangka. Karna saya sangat sangat awam dengan dunia ini, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa ini mirip-mirip dengan saham. - so sorry for my shallow understanding. This ain't my thing.

Biar lebih jelas perbedaan bursa saham dan bursa berjangka, saya mengutip sebuah tulisan dari Smita yang dimuat di artikel keuangan di Majalah Femina.

Bursa saham memperjualbelikan saham – surat bukti kepemilikan sebuah perusahaan – dari perusahaan-perusahaan terbuka, sementara bursa berjangka memperjualbelikan kontrak jual-beli. Misalnya, kontrak jual beli emas atau index futures.

Ranah bermainnya teman saya ini bukan di emas tapi di index futures. Oiya teman saya ini bernaung di bawah perusahaan sekuritas bernama PT. Agrodana Futures. Kelebihan berinvestasi di sini, bagi pemula seperti saya, yaitu kita bisa invest dengan modal minimal sejumlah $500 saja. Istilahnya disebut mini account. Kelebihan lainnya adalah berinvestasi dengan mini account risikonya tidak setinggi seperti di akun-akun reguler dengan minimal modal $5000.

Menurut artikel-artikel yang sudah saya baca, jika ingin berinvestasi di pasar saham maka lebih baik dimulai dengan modal yang tidak terlalu besar. Wira dari juruscuan.com juga mengatakan "Bukankah perjalanan 1000km dimulai dengan satu langkah kaki?" Aiih bener banget. Jadi semakin termotivasi. Siapa tau di masa depan saya bisa menanam modal berMM seperti para investor kelas kakap itu. Hehe. Btw, teman saya menjanjikan keuntungan $15 per harinya. Kalo sebulan? Wah cukup menggiurkan bukan?

Bismillah aja deh. Semoga kalaupun ada loss - pasti sih - bisa ditutupi dengan capital gain yang dibuat selanjutnya. Aamiin. Hehe.

Udah segitu dulu aja deh nulisnya. Nanti saya update bagaimana perkembangan investasi ini.

Let's make money! Salam super! :D

August 08, 2014

Thesis Acknowledgements

Selamat pagi, blog walkers. Mumpung masih dalam euphoria kelulusan, saya ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT, dosen-dosen luar biasa di kampus, teman-teman serta keluarga. Terima kasih atas semua support-nya terutama support yang tends to be more like 'ngomporin' dari Indri Sari Utami. Thanks a million, dear.

Officially, saya pun telah menuliskan acknowledgements yang saya masukkan dalam tesis saya. 

Here we go...

All praises to Allah, the Lord of the Universe, for the strengths and His blessing in completing this thesis. In this part, I would like to express my profound sense of gratitude and respect to the people who have given me help and support during my study.
My first and foremost thanks are dedicated to my supervisor, Dr. Bachrudin Musthafa, M. A. for his kindness, guidance, strong encouragement, tireless assistance, and valuable advice during writing this thesis.
My great respect and special thanks are also addressed to the Head of English Department, Prof. Emi Emilia, M. Ed., Ph. D., and to my lecturers of English Education Study Program, especially for Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah, Prof. Ranbir Singh Malik, Ph.D., Prof. Fuad Abdul Hamied, M. A., Ph. D., Prof. Dr. Didi Sukyadi, M. A., Dr. Wachyu Sundayana, Dr. Iwa Lukmana, M.A., Dr. Rd. Safrina Noorman, M. A., Dr. Dadang Sudana, M. A., Dr. Hobir Abdullah, M. Pd., and Dr. Odo Fadloeli, M. A. for their encouragement, guidance, support, and motivation during my study at English Education Study Program, School of Postgraduate Studies Indonesia University of Education.
The participants involved in this study also deserve a million thank yous. They have voluntarily participated in this study, none of this would have been possible without them. Their dedication and perseverance made for an enjoyable nine weeks.
I also would like to pay my warmest tribute to my classmates Class A 2011 especially Etika Rachmawati, Tita Rosita, Yulita, Ferany Shaily Maulida and Larasati Ayuningsih who have provided help and assistance during my study.
Also heartfelt thanks go to my remarkable friend, Indri Sari Utami, for providing wonderful assistance in conducting this collaborative action research. She has always been ready with words of encouragement and understanding. Her emotional support, camaraderie, and caring have made all the difference.
Finally, and most importantly, I extend my sincere gratitude to my beloved father and mother who have never given up praying for me, have given me moral support and motivation during my study. They have always stressed the importance of education and this respect for education has, in some unconscious way, shaped my values and made me the person that I am today. To them I dedicate this thesis.

                                                                       
Bandung, July 2014
                                                                        The writer,
  
                                                                        Tantri Wandansari

August 07, 2014

Post Graduate Degree Mission Accomplished!

Apa kabar duniaaaa?

Udah beberapa bulan ini saya tidak nongol di sini sejak Februari. Maklum lah mahasiswa pasca sarjana yang - saat itu - dikejar deadline tesis karena takut lewat lagi semesternya dan bingung nanti harus bayar pake apa.

Tapiiiii...

...saya sekarang udah lulus loh pemirsah. Pengumuman ya sekali lagi: saya SUDAH DINYATAKAN LULUS! walaupun sebenarnya pernyataan ini baru disahkan oleh selembar kertas bernama Surat Keterangan Lulus, BUKAN Ijazah. Hahahaha. Ga papa lah bok yang penting eyke nggak harus bolak balik bimbingan lagi. Sidang Tahap 1 dan 2 juga sudah terlewati dengan mulus semulus kulit artis Korea dan sedikit bodor. Bodor karena yang saya kira si penguji A killer eh malah nggak sampe 5 menit ujian sidang saya beres. Sidang yang sungguh feel-nya nggak dapet! *belagu*

Dan si penguji B yang kata orang-orang 'baek kok bapaknya', eh saya dicecer abis-abisan. Pas beres rasanya kayak abis melewati lapangan penuh ranjau darat dengan selamat. Lah berarti nggak semulus kulit artis korea ya. Hehe.. yah saya anggap begitu karena saya bisa handle pertanyaan-pertanyaan menjebak yang dilontarkan dan saya HANYA diuji selama satu jam, sedangkan teman-teman yang lain ada yang sampe tiga jam.

Nah revisi pegimana?

Yah kalo ada revisi wajar itu mah. Tinggal ikutin apa yang disarankan penguji dan tentunya dikerjain revisinya, jangan dipeuyeum. Hihihi. Itu saya sih. Draft tesis pasca sidang yang penuh dengan coretan saya biarkan teronggok di sudut kamar. Belum tersentuh! Semoga belum lupa apa aja yang harus direvisi. Minggu depan harus segera diberesin nih.

Teruuus untuk wisudanya baru akan digelar bulan Desember mendatang.

Well...alhamdulillah saya bisa menyelesaikan studi S2 ini akhirnya.

Target selanjutnya pun sudah saya pasang. Minta doanya saja untuk kelancaran semuanya, terutama soal j........... *kemudian mati lampu* 

February 12, 2014

Rumah Buku Kineruku

Perpustakaan ini terletak di jalan Hegarmanah no. 52 ke arah Secapa AD. Selain perpustakaan ada juga Garasi Opa di halaman belakang rumah yang menjual barang-barang lawas. Sayang sekali kemarin saya dan Indri berkunjung hari Senin jadi tokonya tutup. Mungkin lain kali ke sininya jangan Senin. 

Sebelum baca-baca, saya dan Indri makan dulu dengan pesanan sebagai berikut:
Omelette Sandwich with Fries 19.000
Chicken fillet with fries 19.000
Es Teh Sereh 8.000
Hot Vietnamese Coffee 9.000

Selesai makan, ternyata kami malah sibuk foto-foto di segala spot di perpus ini. Bukannya baca. Hihi. Memang Kineruku ini nyaman sekali sebagai tempat untuk membaca karena daerahnya sangat hening. Selain itu, yang membuat tempat ini sangat menarik adalah ornamen serta meja kursinya yang sangat antik. Serasa ada di era 70an. Cocok banget buat ngerjain tesis sambil ngopi-ngopi nih! Minggu depan mampir lg ah sambil liat barang antik di Garasi Opa. Siapa mau ikut? :)

Tempat parkir mobil disediakan di sebuah rumah dekat Kineruku











Garasi Opa, buka setiap hari (kecuali Senin) pukul 12.00-18.00




February 06, 2014

Culinary Recap

Korean Mart & Bin Soo

Terletak di jalan Sukajadi no. 198, Korean Mart agak susah dicari karena plangnya sangat kecil. Bahkan saat saya ke sana plang Korean Martnya tidak terpasang, mungkin sedang diperbaiki. Untungnya Laras memberi arahan yang jelas untuk ke tempat ini. Kalau dari atas lokasinya sebelah kiri jalan tepat di samping Rudi Hadisuwarno School. Korean Mart menjual makanan dan minuman impor dari Korea. Harganya relatif terjangkau. Saya hanya membeli sebotol kopi bermerek Acafela. Rasanya? Enak! Tujuan ke sini sebenarnya Laras mau beli sumpit ala Korea yang bentuknya lebih kecil dan pipih ketimbang sumpit Jepang.

Setelah belanja yang nggak seberapa, kami pun makan di Bin Soo yang lokasinya masih sama. Saya pesan ramen sedangkan Laras hanya memesan Es Bin Soo. Penampakannya sih menggiurkan, tapi es serutnya itu loh banyak banget ternyata. Topingnya adalah buah-buahan seperti kiwi, pisang, stroberi dan ceri. Kemudian ditaburi meses dan susu coklat kental manis. Not bad lah. Ramennya juga enak loh dan porsinya lumayan gede. Kalau makan di Bin Soo, nanti akan diberi asinan sayur khas Korea bernama Kimbab dan Kimchi. Saya sih nggak suka, rasanya persis asinan Cianjur. Hehe...





Kafe Kupu-kupu (lagi)

Ke sini lagi bareng temen-temen ex Yudha Utama. Seperti biasa arisan bulanan. Kali ini saya memesan Dori Steak dan Thai Tea. Dan akhirnya saya bisa melihat senja yang memerah di sini. Saya ingatkan lagi alamatnya ya yaitu Kolonel Masturi Cimahi.






Belah Doeren & Woodlane

Kedua lokasi kuliner saya malam minggu beberapa saat yang lalu adalah Belah Doeren dan Woodlane. Keduanya merupakan kedai di pinggiran jalan Trunojoyo. Dekat dengan The Dream's Cake. Untuk satu porsi pancake duren dihargai 12.000 atau 15.000. Lupa euy. :p Di woodlane Neni teman saya memesan fried oreo yang dilumuri dengan saus strawberry. Enaaaak bangeeet. Bener ya makanan olahan dengan orea itu bener-bener nikmat.



Rits Ice Cream 

Sebenarnya saya dan Neni kemari sudah sejak bulan Oktober tahun lalu tapi baru sempet diupload pemirsa. Hehe. Kami hanya memesan satu scoop ice cream rasa blueberry dan ... ehm saya lupa lagi! Hahaha sifat pelupanya kumat lagi. Udah dua kali ke sini tempatnya selalu sepi jadi kami bebaaas berfoto ria menclok sana menclok sini. :D






Heida Mi Ramen

Ini mi ramen paling enaaaak yang pernah saya coba. Harganya juga murah meriah. Porsinya banyak. Mantep pokoknya. Untuk ramen ada level low, medium, high. Saya nyoba yang medium, dan menurut saya sebagai pecinta makanan pedas, itu sudah sangat pedas. Saya waktu itu pesan Haidami ramen sedangkan adik saya pesan Curry Ramen. Haidami ramen ini dicampur dengan telur kuahnya. Enak banget deh! Minumnya saya pesan Thai Tea. Harga ramennya berkisar antara 11.000-13.000 saja. Minumnya juga dibawah 15rban sajah. Walaupun memang tempatnya agak kurang meyakinkan ya tapi it's okay lah. Dateng langsung aja deh ke Heida Ramen jalan Tamansari no. 11 Bandung. 



Calais Artisan Buble Tea & Coffee

Calais lokasinya di Riau Junction deket Yogya Dept Store. Tempat duduknya sangat terbatas, biasanya yang beli kebanyakan take away. Lavender Milk Tea adalah pilihan saya di siang hari itu yang panas sambil nunggu Laras. :D 



Beef Prosperity Burger McD


Naaaah burger yang satu ini emang paling juara. Satu paket isinya beef burger saus lada hitam, curly fries yang enaaaak bgt, dan mixed berry fizz. Ada juga manggo fizz. Makan ini udah kayak orang nggak makan seminggu, buru-buru saking enaknya. Haha lebay.

Lawangwangi Art and Science Estate & Cafe: Second Visit

Kunjungan ke dua kali ini, saya mengajak teman-teman dari Banda Aceh. Kok bisa ya saya punya teman dari jauh? Haha. Jadi begini, ketika saya berlibur ke Phi Phi Island tahun lalu, saya bertemu dengan Asep yang ternyata memiliki kampung halaman di Cicaheum Bandung. Setelah pulang snorkeling kami sama sekali tidak menjalin komunikasi. Nah, saat saya mengunggah foto di Phi Phi Island, salah satu teman rombongan Asep yang bernama Akram melike foto saya. Saya pun segera ngeh kalau dia adalah rombongan Aceh yang saya temui di Phuket Thailaid. Dari situ lah kami mulai berkomunikasi melalui instagram. Kemudian tidak berapa lama, saya mengupload foto di Lawangwangi, Asep bilang ingin diajak ke tempat itu jika dia datang ke Bandung bersama teman-temannya.

Jumat minggu lalu kami pun bertemu di Gasibu dan langsung meluncur ke Lawangwangi. Oiya saya juga mengajak Eka yang selalu setia menemani kalau ada acara pergi-pergi dadakan. Hehe. Sore itu kami menjadi tour guide dengan memimpin perjalanan ke Lawangwangi diikuti mobil Asep cs di belakang. Saat di jalan Dago Giri yang jalannya nanjak, mobil vios mereka dengan transmisi manual kesulitan untuk naik. Belum terbiasa kali ya. Saya mah lancar-lancar aja kan pake matic. :p Saran saya gunakanlah gigi terendah saat jalanan nanjak.

Pukul setengah enam kami tiba di Lawangwangi. Akhirnya bisa melihat sunset di tempat ini walaupun agak kurang cantik karena mendung. Berhubung kemarin itu long weekend, Lawangwangi pun sangat penuh sehingga kami masuk daftar waiting list. Tapi nggak lama kok nunggunya.

Penantian kami tidak sia-sia sodara! Beruntung kami dapat tempat duduk di teras luar jadi bisa melihat pemandangan luar. Di sana kami bertujuh: Saya, Eka, Asep, Imam, Muazir, dua lagi lupa namanya. Hehe. Semua hanya pesan minuman hangat: hot minty latte, hot cappuccino dan hot lemon tea. Maklum udara petang itu sangat dingin.

Selesai ngopi dan ngobrol-ngobrol seputar Bandung, Aceh, liburan dan kehidupan masing-masing, kami pun beranjak pulang pukul stengah delapan malam. Saya dan Eka pamit pulang sedangkan mereka melanjutkan jalan-jalan malam di sekitar dago. Senangnya bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman baru. Ingin sekali segera mengunjungi Aceh khususnya Sabang yang menurut mereka memiliki pantai super indah.

Oiya, mereka sampai Jumat ini belum juga sampai Banda Aceh. Padahal mereka pulang dari Bandung hari Minggu sore. Seru deh traveling lintas pulau Jawa Sumatera. Bisa mengunjungi tempat-tempat baru yang menarik. Have a safe trip, kawan-kawan! See you soon.